RSS

Apa Yang Sebenarnya Membuat Kita Belum Mantap Untuk Berhijab?

11 Mar

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)

Sebelum lebih jauh membahas perkara hijab, ada baiknya saudari-saudariku membaca ayat diatas. Kalamullah yang tidak diragukan kebenarannya dan tidak disangsikan keabsahannya. Demi Allah saudariku, Al-qur’an adalah sebaik-baik penuntun hidup. Hukum Allah jauh lebih baik dari hukum-hukum buatan manusia, dan siksa Allah jauh lebih pedih dari siksa-siksa dunia ini. Karena itulah hendaknya kita merenung sejenak, mengapa kita sangat takut ketika melanggar hukum-hukum manusia namun bersantai-santai saja ketika jelas melanggar hukum Allah. Sedang perintah mengenakan jilbab adalah nyata, tertera jelas dalam Al-Qur’an, kedudukannya sama dengan melaksanakan sholat wajib lima waktu, tidak ada tawar-menawar dalam hal ini. Maka hal pertama yang harus kita tahu bahwa hukum mengenakan jilbab adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslimah yang telah baligh.

Namun entah mengapa kewajiban ini diabaikan, dianggap remeh dan sama sekali tidak ada ketakutan atas kelalaian terhadapnya. Argumentasi yang sering menguap adalah anggapan bahwa kebaikan itu dilihat dari dalam, bukan dari penampilan. Secara tidak sadar, asumsi seperti ini adalah produk dari pola fikir sekularisme. Ketika pola fikir ini sudah mencapai taraf yang tertinggi, bisa jadi suatu saat sholat juga dianggap tidak penting dalam mengukur suatu kebajikan seseorang. Karena bagi mereka kebajikan hanya dinilai dari kacamata manusia, bahwa agama pada akhirnya bukanlah sesuatu yang menjadi dasar dalam kehidupan mereka. Saudariku sadar atau tidak, faham-faham sekularisme mulai dipropagandakan ke dalam sendi-sendi umat islam dengan bungkus yang sangat apik nan filosofis. Perlahan namun pasti kaum yahudi mulai menggulung akidah umat islam. Kita harus lebih peka sahabat, asumsi-asumsi tentang ketidakharusan memakai hijab adalah sepenuhnya suatu penyimpangan dan penyelewengan terhadap perintah Allah, yang artinya kita mulai meragukan keberadaan-Nya.

Diluar faham itu, ada pula yang mengetahui secara nyata bahwa mengenakan jilbab adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar namun dengan dalih ketidaksiapan mereka pun enggan mengenakan jilbab. namun, ketidaksiapan dalam hal apa? Ketidaksiapan atas beban yang akan ditanggung ketika kita mengenakan jilbab? Beban apa yang dimaksud? Bahwa seorang muslimah yang telah berhijab dituntut untuk sepenuhnya menjadi muslimah sejati yang harus menjaga pergaulannya? Yang harus menjaga lisannya? Yang harus menjaga semuanya?. Saudariku, semua itu pada dasarnya adalah kewajiban bagi setiap muslimah baik yang berhijab ataupun tidak. Apakah kita merasa bebas untuk bergaul, bersikap, dan seterusnya ketika kita tidak mengenakan jilbab?. Sekali lagi sebuah pemahaman yang salah yang terus dipupuk dalam hati dan keyakinan kita. Setiap muslimah dituntut untuk menjadi pribadi yang baik, menjaga pergaulannya, menjaga lisannya dari hal-hal yang tidak bermanfaat, mejaga agar kaki dan tangannya tidak beranjak ke hal-hal yang tidak diridhoi Allah. Jangan beranggapan bahwa dengan berhijab kita akan terbelenggu, justru kita akan dituntun oleh hijab kita untuk menjadi muslimah yang sebenar-benarnya. Hijab akan membuat diri kita malu untuk melanggar aturan-aturan Allah, hijab akan mengontrol diri kita.

Ada pula yang takut dicemooh, sudah berhijab tapi kok kelakuannya masih seperti itu. Memang tidak bisa dipungkiri, ada beberapa muslimah yang sudah berhijab namun perilakunya tidak menunjukkan identitasnya sebagai muslimah. Fenomena seperti ini seharusnya tidak lantas membuat diri kita takut menjadi cemoohan, justru kita harus membangun citra muslimah yang baik untuk memerangi muslimah yang jahil seperti diatas. Hijab adalah sebuah kewajiban, bukan kesiapan. Sama halnya dengan sholat fardhu, apa kita akan menunggu diri kita siap dulu, untuk bisa sholat dengan khusu’, untuk bisa merasakan kehadiran Allah dalam sholat kita, baru kita akan melaksanakan sholat. Tentu saja tidak kan.

Alasan selanjutnya adalah ketakutan bahwa urusan duniawi akan terbengkalai karena hijab. Seperti susah mendapat jodoh, susah mendapat rezeki, dst. Sungguh sangat ironis ketika para orangtua melarang putrinya mengenakan jilbab karena ketakutan akan sulitnya mendapat pekerjaan karena hijab, susah mendapat jodoh karena hijab, dll. Yang harus kita imani adalah bahwa umur, rezeki, dan jodoh itu ditangan Allah. Kita sama sekali tidak perlu khawatir bahwa karena berhijab kita akan sulit mendapatkan pekerjaan, dll. Ingatlah, barang siapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya. Jangan meragukan janji Allah, pertolongan allah akan selalu datang terhadap hamba-Nya yang taat. Sekarang inipun banyak kan kita melihat menteri, dosen, pengusaha yang berjilbab syar’i. Hijab sama sekali bukan penghalang kita dalam berkarir. Selanjutnya perihal ketakutan dalam mencari jodoh. Demi Allah saudariku, pemuda yang baik akan memilih wanita yang suci yang menjaga kehormatannya. Jika ada pemuda yang enggan menikahi wanita yang berhijab dan memilih wanita yang senang mengumbar auratnya, percayalah sahabat dia bukan pemuda yang baik. Yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Maka justru jika kita ingin mendapat jodoh yang baik, kita harus menjadi wanita yang baik dengan mengenakan jilbab.

Saya tahu teman-teman punya keinginan yang sangat kuat untuk mengenakan jilbab, mantapkan hati bahwa tidak ada alasan lagi bagi kita untuk terus melanggar aturan Allah. Yang perlu diingat lagi adalah bahwa kadar keimanan manusia itu sangat labil, adakalanya naik dan adakalanya turun. Maka ketika kita sudah memutuskan untuk berhijab, hendaknya keputusan itu terus kita jaga sampai akhir hayat, mari kita jaga iman dan dien islam agar selalu bercahaya dihati ini, jangan biarkan ia padam. Berkumpullah dengan orang-orang salih niscaya akan memudahkan kita menjaga sinar keimanan agar terus berpendar. (SKR)

Note: Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menghakimi dan memojokkan sahabat-sahabat yang belum berjilbab. Demi Allah, penulis hanya ingin membangkitkan cahaya keimanan dihati saudari semua. Tulisan ini hanya bermaksud untuk membantu sahabat  memantapkan hati dalam mengambil keputusan untuk berhijab. Semoga bermanfaat. Salam ukhuwah ☻☺…….

Ditulis Oleh: Siti Kholifatul Rizkiyah

 
1 Comment

Posted by on 11 March 2011 in Miracle of ISLAM

 

One response to “Apa Yang Sebenarnya Membuat Kita Belum Mantap Untuk Berhijab?

  1. Muhammad Fauzi

    18 October 2011 at 1:48 pm

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    الحمـــــــد لله
    Numpang singgah ya—-

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: