…………………… Ibrahim yang aku kisahkan ini adalah seorang pemuda yang lugu
dan polos bagi tatapan-tatapan awam. Dia memiliki kakak yang juga seorang pemuda, tetapi memiliki karakter yang berkebalikan dengan Ibrahim. Yusuf, kakaknya, adalah pemuda yang cerdas, berwajah tampan, mudah bergaul, dan memiliki cita-cita yang tinggi menjulang. Kakak beradik ini lahir dalam keluarga sederhana dalam dukuh Seworan di bawah bayang-bayang Perbukitan Kendeng.
Benang-benang takdir kadang bertemu dalam satu sulaman. Tetapi, terkadang mencerai-beraikan kain yang sudah tersulam. Demikian pula takdir yang bekerja dari sebuah rumah berdinding papan, berjarak sedang di atas surau dukuh Seworan, rumah orang tua Ibrahim. Kisah ini dimulai ketika takdir masih mempersatukan apa yang harus bersatu. Cinta, kehangatan, dan kebahagiaan masih menjadi selimut kehidupan keluarga tersebut. Tetapi, seperti kata pepatah, tak ada yang kekal di dunia ini. Begitu pula cinta, kehangatan, dan kebahagiaan. Sungguh, betapa tipis hijab cinta dengan kebencian dan kemarahan, kehangatan dengan dinginnya hati dan pikiran, serta kebahagiaan dengan kesengsaraan dan penderitaan. Kerlingan mata seorang gadis, harta, kedudukan, dan ambisi berhasil membalik cinta dengan kebencian, sabar dengan kemarahan, dan persaudaraan dengan permusuhan. Apa obat untuk mengatasi hal ini? Obat itu ada di jiwa Ibrahim. Sebuah jiwa yang merindu kepada Sang Maha Mencinta, Allah, Rabb al-‘Izzati.{}
…………………… Semburat awan senja berkilauan diterpa mentari. Warnanya yang putih kemerah-merahan menghiasi angkasa sebelah barat. Sinarnya menerobos awan, membentuk garis-garis lurus dan menabarak daun-daun serta pepohonan. Dinaungi cahaya yang remang-remang, satu dua orang penduduk dukuh Seworan masih tampak berjalan menuju Masjid. Masjid tersebut terletak persis di tengah-tengah pedukuhan, tepatnya di sebelah selatan jalan utama dukuh.
Bukan dari arah masjid ini pemuda tadi mendengar panggilan adzan yang disenandungkan Kiai Ahmad, melainkan dari arah surau yang terletak di ujung dukuh sebelah barat, di tengah-tengah hamparan padang ilalang. Ada kurang lebih lima belas kepala keluarga yang tinggal di seputar surau. Dan, rumah pemuda itu terletak persis di sebelah selatan surau. Jarak rumahnya dari surau hanyalah seratus meter saja.
Terdengar suara iqamat dari arah masjid dukuh, suara serak Kiai Ahmad melantunkan puji-pujian di dalam surau. Berkali-kali, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun, yang didapatinya adalah orang-orang yang sama, yang telah duduk sekian lama di belakangnya. Mereka terdiri dari seorang bapak yang usianya lebih tua dari Kiai Ahmad, seorang pemuda, dan seorang nenek yang duduk tertunduk di pojok kiri surau bersebelahan dengan seorang gadis. Seperti halnya Kiai Ahmad, merekapun melantunkan puji-pujian……
Rungokno anakku yo, Ngger
Isih cilik tak kudang-kudang
Ora liya pangarepanku
Ing tembe keno tak sawang
Rikolo uripmu yo, Ngger
Ora manut mring tuntunane
Mengko bakal kedarang-darang
Naliko tembe mburine
Ling sing eling, ojo dilali-lai
Wasiat penting tinggalane kanjeng nabi
Cacahe loro sing wajib digondeli
Kitab al-Qur’an lan ahlul bait ingkang suci.
………………………………………………………………………………………………………………… View full article »















